Shotokan

Shotokan

Senin, 14 Juni 2010

Wishdom

Ketika seorang kerdil menerima tingkatan Dan-nya yang pertama, dia akan segera berlari ke rumahnya dan berteriak sekeras-kerasnya kepada semua orang bahwa dia sudah mendapatkan Dan pertamanya.

Ketika dia menerima Dan dua, dia akan memanjat atap rumahnya dan berteriak kepada orang-orang bahwa ia sekarang memegang Dan dua.

Ketika dia menerima Dan tiga, dia akan melompat ke mobilnya dan berpawai melewati kota dengan membunyikan terompet, memberitahu semua orang tentang Dan tiganya.

Ketika seorang bijak menerima Dan-nya yang pertama, dia akan menundukkan kepalanya dengan diliputi penuh rasa terima kasih.

Ketika dia menerima Dan dua, dia akan menundukkan kepala dan bahunya.

Ketika dia menerima Dan tiga, dia akan menundukkan kepala, bahu dan pinggangnya, selanjutnya diam-diam berjalan di sisi dinding, sehingga orang-orang tidak akan melihat atau memperhatikannya. "Master Gichin Funakoshi"

Untuk mendapat seratus kemenangan dalam seratus pertarungan bukanlah kemampuan yang tertinggi. Untuk menaklukkan lawan tanpa bertarung adalah kemampuan yang tertinggi. "Gichin Funakoshi" - My Way of Life

Blackbelt / Kuro Obi 黒帯


Bagi sebagian praktisi beladiri, khususnya yg mempelajari beladiri asal Jepang, merupakan suatu kebanggaan jika jerih payahnya latihan akhirnya berbuah penghargaan seikat sabuk berwarna hitam ini.

Sebuah simbol seorang praktisi beladiri telah menyandang status pelatih.

Istilah beladiri Jepang, para penyandang sabuk hitam disebut Yudansha yang terkelompok dalam beberapa sebutan sesuai tingkatan sabuk hitam (DAN). Sempai/Senpai biasanya diistilahkan untuk penyandang Sabuk hitam "Kuro Obi 黒帯" (yudansha) DAN I-III, Sensei bagi penyandang DAN IV-V dan Shihan untuk DAN VI-VIII atau bisa pula DAN IX-V).

Idealnya, setelah 5 sampai 7 tahun berlatih tekun dan terus mengikuti ujian di tingkat Kohai (sabuk putih s.d. coklat), barulah diperoleh kesempatan diuji untuk memperoleh sabuk hitam.

Setelah menyandang sabuk hitam, capek dan letihnya sebagai kohai, sirnalah sudah. Amarah dan bentakan pelatih tak lagi terdengar, karena posisinya sekarang adalah orang yang melatih. Sekarang giliran sang yudansha baru menggembleng kohai dengan sesekali membentak atau mungkin melakukan tindakan 'arogansi' dengan tangan dan kaki juga benda keras.

Demikiankah seorang sabuk hitam?

Bahkan mungkin ada segelintir yudansha yang beranggapan setelah memperoleh ijazah/sertifikat dan menyandang sabuk hitam (meski baru DAN I) tamatlah sudah ilmu yang dipelajarinya dari beladiri tersebut. Semua sudah didapatkan saat menjadi kohai, sehingga tatkala sabuk hitam melingkar di pinggang yang ada hanya melatih atau mungkin istirahat latihan, karena alasan tadi, ilmu yang dipelajari sudah habis.

Padahal, sabuk hitam adalah awal sebenarnya seseorang berlatih seni beladiri. Tingkat sabuk hitam adalah masa di mana seorang praktisi terus memperbaiki teknik dan keilmuannya, karena saat berstatus kohai adalah masa di mana dasar-dasar teknik dibentuk.

Ilmu beladiri sejati, tak habis oleh tingkatan yang disimbolkan dengan sabuk. Jika kita mau terus berlatih dan berlatih akan merasa bahwa ilmu beladiri itu luas dan banyak sekali, sehingga kita tak boleh berhenti belajar.

Tingkatan DAN dalam sabuk hitam bukan semata hirarki tetapi menandakan kemampuan si penyandang. Seorang DAN II tentunya dari segi penguasaan teknik, pengetahuan dan kematangan jiwa akan lebih bagus dari DAN I. Demikian seterusnya.

Fenomena di tanah air, masih cukup banyak yudansha yang kemampuannya stagnan bahkan cenderung menurun, baik segi teknik maupun fisik terlebih pengetahuan dan wawasan serta kematangan jiwa, akibat pandangan sempit tentang arti sabuk hitam.

Hanya sedikit pemegang sabuk hitam terutama DAN III ke atas yang memiliki kemampuan sesuai dengan tingkatan DAN-nya.

Berbeda dengan di Jepang atau mungkin negara lain macam di Amerika dan Eropa. Lihat saja, para master atau ahli beladiri di sana meski berusia lanjut tapi kemampuan beladirinya masih terjaga, fisik mereka pun tetap prima.

Tentunya karena mereka tak berhenti berlatih selain melatih. Seperti halnya sebilah pisau akan terjaga ketajamannya kalau dirawat dengan baik, bukannya digeletakkan begitu saja atau cuma disarungkan tanpa pernah diasah.

Tak jarang ada yudansha yang hadir ke tengah publik beladiri saat ada kegiatan semata. Sekedar aktualisasi, aku seorang sabuk hitam penyandang DAN III atau V. Sementara di dojo tak kelihatan batang hidungnya. Demikian pula di rumah, sabuk dan seragam beladirinya bergantung begitu saja di kapstok atau dilipat di lemari.

Di tengah kegiatan, misalnya gashuku atau ujian, yudansha seperti ini biasanya hanya suka pamer diri. Sementara tatkala diminta unjuk teknik, beringsut mundur ke belakang karena sadar diri. Bahkan kadang gashuku dijadikan ajang mengembalikan memori atas lupanya dengan teknik yang pernah dipelajari. Lucu memang. Ada saja yudansha yang mengulang belajar teknik yang sebenarnya 'kurikulum' para kohai.

'Pembantaian' Sabuk Coklat

Bagi para sebagian Karateka, menyandang sabuk coklat merupakan suatu kebanggan, karena sabuk coklat sudah menandai senioritas dan mendekati jenjang Kuro Obi alias sabuk hitam.

Pemegang sabuk coklat, kadang diminta oleh Senpai atau Sensei untuk membantu melatih para Karateka sabuk biru ke bawah. status sebagai asisten pelatih, merupakan penghargaan tersendiri, menyiratkan bahwa sang Karateka sabuk coklat sudah memiliki kemampuan untuk mengajar para kohai lainnya.

Namun di balik kebanggan sebagai penyandang sabuk coklat, sebenarnya ada ketakutan dan kekhawatiran yang tersembunyi di hati, beberapa perguruan Karate menerapkan beberapa kali penurunan Kyu bagi Karateka sabuk Coklat yang jika dihitung memakan waktu hingga 2 tahun (dengan catatan selalu ikut ujian).

Contoh, pertama kali Sabuk Coklat Kyu-nya 3,5. Untuk bisa ujian ke sabuk hitam diharuskan minimal Kyu 1,5. Setiap kali ujian penurunan Kyu, biasanya hanya turun setengah, dari 3,5 menjadi 3. Ujian lagi, turun jadi 2,5, kemudian 2, sampai 1,5.

Ujian diadakan per enam bulan, berarti mulai Kyu 3,5 hingga Kyu 1,5 diperlukan 4 kali ujian penurunan Kyu. Berarti waktunya 2 tahun.

Beberapa kali ujian penurunan Kyu itulah yang kadang membuat keder para Karateka Sabuk Coklat. Soalnya, ujian bagi Sabuk Coklat lebih berat dibanding ujian sabuk di bawahnya.

Satu 'tradisi' saat ujian Sabuk Coklat adalah Kumite. Jika kumite dengan sesama Sabuk Coklat sih tidak masalah, ini kumite dengan Majelis Sabuk Hitam (MSH).

Sudah harus menghadapi tendangan dan pukulan serta bantingan para Kuro Obi, kadang pula ada perguruan yang menerapkan aturan tidak boleh membalas setiap serangan, yang boleh hanya mengelak atau menangkis.

Konon, Kumite jenis ini ini maksudnya untuk membina mental para Sabuk Coklat sekaligus mengetahui sejauh mana kemampuan teknik mereka dalam menghadapi serangan. Namun ironisnya, kerap kali tradisi ini menjadi ajang show of force para MSH.

Di hadapan para peserta ujian lainnya dan sejumlah penonton ujian, kadang beberapa MSH ingin menunjukkan kehebatannya namun dengan teknik-teknik tak terkontrol. Serangan dilancarkan powerfull, full speed dan seolah tak menyisakan ruang dan waktu untuk mengelak, menangkis, apalagi mengatur napas.

Jika kepalan atau tendangan belum tepat mengenai sasaran, kohai akan terus diburu ke manapun ia menghindar. Ibaratnya, serangan tak akan berhenti, sebelum knock down! Maksudnya menguji, malah 'membantai.'

Ya, tak jarang para Sabuk Coklat harus babak belur dan berdarah-darah, bahkan KO dan pingsan, saat menjalani prosesi Kumite tak seimbang ini.'Kengerian' ujian penurunan Kyu ini kadang menjadi sebab berhentinya 'karir' sang Karateka hingga di Sabuk Coklat. Tak begitu banyak yang punya keberanian untuk terus maju hingga sampai di akhir Kyu dan berkesempatan mengikuti ujian Sabuk Hitam.

Sebenarnya, Kumite model ini tidak salah. Boleh saja dilakukan, asal benar-benar berlandaskan pada tujuan menguji. Serangan dilakukan terkontrol dan manusiawi sehingga kohai pun bisa berpikir taktis, menerapkan teknik yang baik untuk menghindar dan mengelak. Bagus lagi, sang Sabuk Coklat diperbolehkan untuk melakukan serangan balasan sehingga terjadi pertukaran teknik yang seimbang. Jika ada MSH yang kena pukul atau tendang, bahkan terbanting, berarti kemampuannya masih setara dengan yang diuji.

Teknik MSH saat menghadapi serangan akan menjadi pembelajaran bagi yang diuji dan para kohai lainnya yang menonton. "Oh, begitu caranya jika kita diserang

Makna dan Arti Sabuk


Karate merupakan olahraga beladiri yang mempunyai ciri khas yang bisa dibedakan dari jenis olahraga beladiri lainnya seperti silat, judo, dan lainnya. Perbedaan itu bisa dilihat secara filosofi, teknik gerakan, dan juga atribut yang dipergunakan selama proses latihan, pertandingan maupun ujian. Salah satu perbedaan dalam atribut ini yakni peralatan dan perlengkapan dalam yang dipergunakan seperti baju dan sabuk. Meski antara karate dan judo ada kesamaan sistem peringkat yang dibedakan berdasarkan warna sabuk, karena karate meniru sistem judo dalam sistem pemeringkatan ini sebagaimana yang diakui oleh Master Gichin Funakoshi.

Dalam karate, warna sabuk (obi) membedakan satu karateka dengan karateka lain. Karateka dasar dimulai dari sabuk putih, sabuk yang digunakan untuk pemula dalam memulai belajar karate. Secara filosofis, perbedaan sabuk karate ini untuk menunjukkan bahwa karateka harus menjunjung tinggi sikap saling menghomati satu sama lain. Karateka yang baru belajar atau pemula harus menghormati karateka yang sudah lebih tinggi sabuk yang diraihnya, meski secara umur lebih muda. Pun karateka yang sudah meraih sabuk lebih tinggi dari yang lainnya, wajib untuk menghargai dan menghormati pula karateka yang baru belajar. Sikap ini sejalan dengan prinsip karate yang dijelaskan oleh Gichin Funakoshi bahwa karate diawali dan diakhiri oleh sikap menghormati dan saling menghargai.

Obi sebagai sistem pemeringkatan dengan menggunakan ukuran kyu (yang kadang berbeda dari satu perguruan dan perguruan lain) merupakan bentuk representasi dari karate dalam menunjukkan bahwa karateka harus berproses dalam semua tujuan yang diinginkan. Untuk menjadi sekedar sabuk hitam, harus mulai belajar dasar. Untuk mengejar nilai kebaikan melalui perolehan sabuk hitam, harus belajar dari dasar. Kecuali untuk tokoh yang memberikan kontribusi dan dukungan nyata terhadap karate mereka bisa mendapat penghargaan sabuk hitam kehormatan. Dengan demikian, perbedaan sabuk ini selain sebagai pelajaran bagi karateka untuk terus belajar dan berproses dalam meraih tujuan, juga saling menghormati dan menghargai sesama karateka adalah kemutlakan untuk dijalani.

Sabuk karate sendiri terdiri dari 6 warna sabuk yang diawali dari sabuk putih dan yang tinggi sabuk hitam. Arti dari warna sabuk tersebut yakni:

Sabuk putih (kyu 10-9) melambangkan kemurnian dan kesucian. Kemurnian dan kesucian ini merupakan kondisi dasar dari pemula untuk menerima dan mengolah hasil latihan dari guru masing-masing. Artinya berkembang atau tidaknya karateka ini tergantung dari apa yang diberikan oleh senpai atau sensei mereka. Kemudian, setelah materi atau nilai karate telah disampaikan sesuai dengan apa yang seharusnya, selanjutnya tanggung jawab ada pada masing-masing individu.

Sabuk kuning (kyu 8-7). Tingkatan kedua ini melambangkan warna matahari yang diibaratkan bahwa karateka telah melihat “hari baru” dimana dia telah mampu memahami semangat karate, berkembang dalam karakter kepribadiannya dan juga teknik yang telah dipelajari. Sabuk kuning juga merupakan tahapan terakhir dari seorang “raw beginner” dan biasanya sudah mulai belajar tahapan-tahapan gerakan kumite bahkan ada juga yg mulai turun di suatu turnamen

Sabuk hijau (kyu 6-5). Sabuk ini merepresentasikan warna rumput dan pepohonan. Pemegang sabuk hijau ini sudah harus mampu memahami dan menggali lebih dalam lagi segala sesuatu yang berkaitan dengan karate seiring dengan bertumbuhnya semangat dan teknik gerakan yang sudah dikuasainya. Sifat dari warna hijau ini adalah pertumbuhan dan harmoni. Dengan demikian seorang karateka sabuk hijau diharapkan dalam proses pertumbuhannya mulai bisa memberikan harmoni dan keseimbangan bagi lingkungan.

Sabuk biru (kyu 4-3). Warna sabuk ini melambangkan samudera dan langit. Artinya karateka harus mempunyai semangat luas seperti angkasa dan sedalam samudera. Karateka harus sudah mampu memulai berani untuk menghadapi tantangan yang dihadapinya dengan semangat tinggi dan berfikir bahwa proses latihan adalah sesuatu yang menyenangkan dan bisa merasakan manfaat yang didapatkan. Karateka harus sudah bisa mengontrol emosi dan berdisiplin.

Sabuk coklat (kyu 3-1). Warna sabuk ini dilambangkan dengan tanah. Sifat warna ini adalah stabilit as dan bobot. Artinya seorang karateka pemegang sabuk coklat mulai dari tingkatan kyu 3 sampai 1 harus bisa memberikan kestabilan sikap, kemampuan yang lebih dari pemegang sabuk di bawahnya, dan juga sikap melindungi bagi junior-juniornya. Selain itu, sikap yang harus dimiliki adalah sikap menjejak bumi (down to earth) dan rendah hati pada sesama.

Sabuk hitam (DAN). Warna hitam sendiri melambangkan keteguhan dan sikap kepercayaan diri yang didasari pada nilai kebaikan universal. Warna sabuk ini menjadi idaman bagi setiap karateka untuk mendapatkannya. Namun, di balik semua prestise sabuk hitam terdapat tanggung jawab besar dari karateka. Pada tahap ini, pemegang sabuk hitam mulai dari Dan 1 sampai selanjutnya sebenarnya baru memasuki tahap untuk mendalami karate yang lebih mendalam. Teknik maupun penguasaan makna hakiki dari kebaikan nilai karate sudah harus menjadi bagian dari karateka. (penggambaran Gichin Funakohsi).

Dalam sebagian perguruan karate di Indonesia, sistem peringkat selain sabuk yakni kyu, ada beberapa perbedaan yakni ketika sabuk biru (kyu 4) mengikuti ujian sabuk coklat, penurunan kyu berbeda. Ada yang turun kyu 0,5 derajat menjadi kyu 3,5. Di perguruan lain ada yang langsung menjadi kyu 3. Dengan demikian, bagi sebagian perguruan karate di Indonesia ada yang menerapkan ujian untuk sabuk coklat sebanyak 4 kali (2 tahun atau 4 semester) sampai mendapat kyu 1. Namun bagi sebagian yang lain, bisa hanya sampai 1,5 tahun atau 3 semester.Maka, dalam karate selain sebagai pembeda antara karateka yang baru belajar dengan yang sudah lama menekuni karate, sabuk dipergunakan lebih luas dari itu yakni sebagai proses pendorong bagi karate untuk terus giat belajar dan berlatih. Selain itu juga, bagaimana perbedaan sabuk ini justru menjadi dorongan bagi semua karateka untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain.