

Shotokan adalah karate yang paling populer saat ini. Gichin Funakoshi (1868-1957) adalah dianggap sebagai pendiri karate modern. Lahir di Okinawa, ia mulai belajar karate di usia 11 dengan Yasutsune Azato, salah satu perusahaan Okinawa 'ahli terbesar dalam seni. Saat itu terjadi setelah anak Azato menjadi teman sekelasnya. Tidak lama setelah itu, Funakoshi diperkenalkan oleh Azato menguasai Shorin-ryu Yasutsune Itosu. Guru lain Funakohi adalah Arakaki Seisho, Kanryo Higashionna, Kodatsu Iha dan legendaris Sokon Matsumura bahkan dalam waktu singkat.
Funakoshi juga membantu Itosu memperkenalkan karate ke komisaris sekolah di awal 1900-an. Sebagai hasil dari demonstrasi ini, karate diinstal sebagai bagian dari program pendidikan jasmani di Sekolah Menengah Dai Chi dan Men's Normal School di Shuri. Ini adalah mimpi Itosu yang akan menyebar karate dari Okinawa ke Jepang daratan. Setelah Okinawa menjadi salah satu prefektur Jepang, pada musim semi 1917 undangan dari Dai Nippon Butokukai akhirnya tiba. Itu intitation untuk demonstrasi seni bela diri di Kyoto. Funakoshi dipilih sebagai wakil Okinawa bersama dengan master kobudo Shinko Matayoshi.
Pada tahun 1921, ia memberi demonstrasi lain di Shuri Castle untuk Putra Mahkota Hirohito. Hirohito sangat terkesan, ia menyebutkan dalam laporannya. Tak lama setelah demonstrasi ini, Departemen Pendidikan mengundang Funakoshi untuk memberikan demonstrasi di Tokyo. Setelah demonstrasi banyak orang terkesan termasuk Jigoro Kano, pendiri dari Judo Jepang. Kano tanya beberapa pelajaran dasar dari Funakoshi, dan sejak saat itu Funakoshi tinggal di Jepang. Funakoshi tinggal di sebuah asrama kecil untuk siswa Okinawa. Untuk mencari nafkah, ia bekerja sebagai tukang kebun dan penjaga.
Funakoshi dibujuk oleh orang Jepang untuk tinggal di Jepang memberikan ceramah dan melakukan demonstrasi. Dia tidak pernah kembali ke Okinawa dan pada tahun 1936 (hampir 70 tahun) mendirikan Dojo permanen di Tokyo dikenal sebagai Shotokan; Shoto setelah nama pena "Shoto" yang berarti gelombang pinus dan "Kan" yang berarti ruang besar. Tapi sebenarnya dia tidak pernah menamakannya sebagai seperti dan selalu mengacu pada itu hanya sebagai "karate". Juga, Melalui tulisan-tulisannya di Karate-do Kyohan, makna karate berubah dari "tangan Cina" menjadi "tangan kosong".
Praktek karate dengan Funakoshi (depan) di Keio University di tahun 1930-an
Teknik
Shotokan Karate dipengaruhi langsung oleh Shuri-te (Shorin-ryu), dan ditandai oleh teknik linier yang kuat. Shotokan juga digunakan kuda-kuda yang kuat dalam dengan meninju langsung, pemblokiran, dan menendang. postur Benar, keselarasan bersama dan pondasi yang kuat adalah dasar bagi semua teknik.
Praktisi Shotokan harus melatih dengan hissatsu "ikken" atau "membunuh dengan satu pukulan" melatih pemikiran. Hal ini bukan berarti karateka ini benar-benar ingin membunuh, melainkan untuk secara efektif melaksanakan teknik dengan sebagai upaya membuang energi sedikit atau mungkin sementara menerapkan 100% dari yang tubuh ke dalamnya. Untuk menghilangkan penyerang yang, entah dengan blok memukul keras yang membuatnya berpikir dua kali untuk melanjutkan, pemogokan yang memungkinkan Anda stuns dia kesempatan untuk melarikan diri atau untuk membuat mereka incapatitated.
pejuang Shotokan akan tinggal di dekat bahkan ketika diserang, perfering bergeser ke samping untuk menghindari serangan tetapi masih berada dalam jarak ke counter dengan teknik mereka sendiri. Atau bahkan mengambil kontrol penuh dari sebuah situasi, oleh "memikat" musuh ke melemparkan pukulan atau mogok dan mengambil keuntungan dari teknik mereka membuat tertarik datang.
Pelatihan dibagi menjadi 3 bagian, kihon (dasar), kumite (perselisihan) dan Kata (bentuk). Secara umum, kumite Shotokan dibagi menjadi dua bagian Yakusoku kumite (kumite diatur sebelumnya) untuk pemula dan Jiyu kumite (tanding gratis) untuk siswa lanjutan. Pada Funakoshi pertama memilih 15 kata, tapi Shotokan saat ini melatih 26 kata. Daftar sekarang kata Shotokan:
Heian Shodan (Pikiran Damai - 1)
Heian Nidan (Pikiran Damai - 2)
Heian Sandan (Pikiran Damai - 3)
Heian Yondan (Pikiran Damai - 4)
Heian Godan (Pikiran Damai - 5)
Tekki Shodan (Kuda Besi - 1)
Bassai dai (Untuk menembus sebuah Benteng)
Jion (Nama sebuah kuil, atau nama orang suci Buddha)
EMPI (Penerbangan dari menelan)
Kanku dai (Untuk Melihat Langit)
Hangetsu (Bulan Separuh)
Jitte: Sepuluh tangan
Gankaku (Burung Bangau di atas batu)
Tekki nidan (Kuda Besi - 2)
Tekki sandan (Kuda Besi - 3)
Nijushiho (24 Langkah)
Chinte (Tangan biasa)
Sochin (Tenang memberikan ketenangan antara Pria)
Meikyo (Cermin Cerah)
Unsu (Seperti tangan langit)
Bassai sho (Untuk menembus sebuah Benteng)
Kanku sho (Untuk Lihat langit)
Wankan (Mahkota para Raja)
Gojushiho sho (54 Langkah) (Minor)
Gojushiho dai (54 Langkah) (Mayor)
Ji'in (Kebenaran Cinta) Suara Candi
Pendiri KWF, Mikio Yahara melakukan Shotokan Kata paling maju itu, Unsu.
Ketika seorang kerdil menerima tingkatan Dan-nya yang pertama, dia akan segera berlari ke rumahnya dan berteriak sekeras-kerasnya kepada semua orang bahwa dia sudah mendapatkan Dan pertamanya.Ketika dia menerima Dan dua, dia akan memanjat atap rumahnya dan berteriak kepada orang-orang bahwa ia sekarang memegang Dan dua.
Ketika dia menerima Dan tiga, dia akan melompat ke mobilnya dan berpawai melewati kota dengan membunyikan terompet, memberitahu semua orang tentang Dan tiganya.
Ketika seorang bijak menerima Dan-nya yang pertama, dia akan menundukkan kepalanya dengan diliputi penuh rasa terima kasih.
Ketika dia menerima Dan dua, dia akan menundukkan kepala dan bahunya.
Ketika dia menerima Dan tiga, dia akan menundukkan kepala, bahu dan pinggangnya, selanjutnya diam-diam berjalan di sisi dinding, sehingga orang-orang tidak akan melihat atau memperhatikannya. "Master Gichin Funakoshi"
Untuk mendapat seratus kemenangan dalam seratus pertarungan bukanlah kemampuan yang tertinggi. Untuk menaklukkan lawan tanpa bertarung adalah kemampuan yang tertinggi. "Gichin Funakoshi" - My Way of Life
Sebuah simbol seorang praktisi beladiri telah menyandang status pelatih.
Istilah beladiri Jepang, para penyandang sabuk hitam disebut Yudansha yang terkelompok dalam beberapa sebutan sesuai tingkatan sabuk hitam (DAN). Sempai/Senpai biasanya diistilahkan untuk penyandang Sabuk hitam "Kuro Obi 黒帯" (yudansha) DAN I-III, Sensei bagi penyandang DAN IV-V dan Shihan untuk DAN VI-VIII atau bisa pula DAN IX-V).
Idealnya, setelah 5 sampai 7 tahun berlatih tekun dan terus mengikuti ujian di tingkat Kohai (sabuk putih s.d. coklat), barulah diperoleh kesempatan diuji untuk memperoleh sabuk hitam.
Setelah menyandang sabuk hitam, capek dan letihnya sebagai kohai, sirnalah sudah. Amarah dan bentakan pelatih tak lagi terdengar, karena posisinya sekarang adalah orang yang melatih. Sekarang giliran sang yudansha baru menggembleng kohai dengan sesekali membentak atau mungkin melakukan tindakan 'arogansi' dengan tangan dan kaki juga benda keras.
Demikiankah seorang sabuk hitam?
Bahkan mungkin ada segelintir yudansha yang beranggapan setelah memperoleh ijazah/sertifikat dan menyandang sabuk hitam (meski baru DAN I) tamatlah sudah ilmu yang dipelajarinya dari beladiri tersebut. Semua sudah didapatkan saat menjadi kohai, sehingga tatkala sabuk hitam melingkar di pinggang yang ada hanya melatih atau mungkin istirahat latihan, karena alasan tadi, ilmu yang dipelajari sudah habis.
Padahal, sabuk hitam adalah awal sebenarnya seseorang berlatih seni beladiri. Tingkat sabuk hitam adalah masa di mana seorang praktisi terus memperbaiki teknik dan keilmuannya, karena saat berstatus kohai adalah masa di mana dasar-dasar teknik dibentuk.
Ilmu beladiri sejati, tak habis oleh tingkatan yang disimbolkan dengan sabuk. Jika kita mau terus berlatih dan berlatih akan merasa bahwa ilmu beladiri itu luas dan banyak sekali, sehingga kita tak boleh berhenti belajar.
Tingkatan DAN dalam sabuk hitam bukan semata hirarki tetapi menandakan kemampuan si penyandang. Seorang DAN II tentunya dari segi penguasaan teknik, pengetahuan dan kematangan jiwa akan lebih bagus dari DAN I. Demikian seterusnya.
Fenomena di tanah air, masih cukup banyak yudansha yang kemampuannya stagnan bahkan cenderung menurun, baik segi teknik maupun fisik terlebih pengetahuan dan wawasan serta kematangan jiwa, akibat pandangan sempit tentang arti sabuk hitam.
Hanya sedikit pemegang sabuk hitam terutama DAN III ke atas yang memiliki kemampuan sesuai dengan tingkatan DAN-nya.
Berbeda dengan di Jepang atau mungkin negara lain macam di Amerika dan Eropa. Lihat saja, para master atau ahli beladiri di sana meski berusia lanjut tapi kemampuan beladirinya masih terjaga, fisik mereka pun tetap prima.
Tentunya karena mereka tak berhenti berlatih selain melatih. Seperti halnya sebilah pisau akan terjaga ketajamannya kalau dirawat dengan baik, bukannya digeletakkan begitu saja atau cuma disarungkan tanpa pernah diasah.
Di tengah kegiatan, misalnya gashuku atau ujian, yudansha seperti ini biasanya hanya suka pamer diri. Sementara tatkala diminta unjuk teknik, beringsut mundur ke belakang karena sadar diri. Bahkan kadang gashuku dijadikan ajang mengembalikan memori atas lupanya dengan teknik yang pernah dipelajari. Lucu memang. Ada saja yudansha yang mengulang belajar teknik yang sebenarnya 'kurikulum' para kohai.
Pemegang sabuk coklat, kadang diminta oleh Senpai atau Sensei untuk membantu melatih para Karateka sabuk biru ke bawah. status sebagai asisten pelatih, merupakan penghargaan tersendiri, menyiratkan bahwa sang Karateka sabuk coklat sudah memiliki kemampuan untuk mengajar para kohai lainnya.
Namun di balik kebanggan sebagai penyandang sabuk coklat, sebenarnya ada ketakutan dan kekhawatiran yang tersembunyi di hati, beberapa perguruan Karate menerapkan beberapa kali penurunan Kyu bagi Karateka sabuk Coklat yang jika dihitung memakan waktu hingga 2 tahun (dengan catatan selalu ikut ujian).
Contoh, pertama kali Sabuk Coklat Kyu-nya 3,5. Untuk bisa ujian ke sabuk hitam diharuskan minimal Kyu 1,5. Setiap kali ujian penurunan Kyu, biasanya hanya turun setengah, dari 3,5 menjadi 3. Ujian lagi, turun jadi 2,5, kemudian 2, sampai 1,5.
Ujian diadakan per enam bulan, berarti mulai Kyu 3,5 hingga Kyu 1,5 diperlukan 4 kali ujian penurunan Kyu. Berarti waktunya 2 tahun.
Beberapa kali ujian penurunan Kyu itulah yang kadang membuat keder para Karateka Sabuk Coklat. Soalnya, ujian bagi Sabuk Coklat lebih berat dibanding ujian sabuk di bawahnya.
Satu 'tradisi' saat ujian Sabuk Coklat adalah Kumite. Jika kumite dengan sesama Sabuk Coklat sih tidak masalah, ini kumite dengan Majelis Sabuk Hitam (MSH).
Sudah harus menghadapi tendangan dan pukulan serta bantingan para Kuro Obi, kadang pula ada perguruan yang menerapkan aturan tidak boleh membalas setiap serangan, yang boleh hanya mengelak atau menangkis.
Konon, Kumite jenis ini ini maksudnya untuk membina mental para Sabuk Coklat sekaligus mengetahui sejauh mana kemampuan teknik mereka dalam menghadapi serangan. Namun ironisnya, kerap kali tradisi ini menjadi ajang show of force para MSH.
Di hadapan para peserta ujian lainnya dan sejumlah penonton ujian, kadang beberapa MSH ingin menunjukkan kehebatannya namun dengan teknik-teknik tak terkontrol. Serangan dilancarkan powerfull, full speed dan seolah tak menyisakan ruang dan waktu untuk mengelak, menangkis, apalagi mengatur napas.
Jika kepalan atau tendangan belum tepat mengenai sasaran, kohai akan terus diburu ke manapun ia menghindar. Ibaratnya, serangan tak akan berhenti, sebelum knock down! Maksudnya menguji, malah 'membantai.'
Ya, tak jarang para Sabuk Coklat harus babak belur dan berdarah-darah, bahkan KO dan pingsan, saat menjalani prosesi Kumite tak seimbang ini.'Kengerian' ujian penurunan Kyu ini kadang menjadi sebab berhentinya 'karir' sang Karateka hingga di Sabuk Coklat. Tak begitu banyak yang punya keberanian untuk terus maju hingga sampai di akhir Kyu dan berkesempatan mengikuti ujian Sabuk Hitam.
Sebenarnya, Kumite model ini tidak salah. Boleh saja dilakukan, asal benar-benar berlandaskan pada tujuan menguji. Serangan dilakukan terkontrol dan manusiawi sehingga kohai pun bisa berpikir taktis, menerapkan teknik yang baik untuk menghindar dan mengelak. Bagus lagi, sang Sabuk Coklat diperbolehkan untuk melakukan serangan balasan sehingga terjadi pertukaran teknik yang seimbang. Jika ada MSH yang kena pukul atau tendang, bahkan terbanting, berarti kemampuannya masih setara dengan yang diuji.
Teknik MSH saat menghadapi serangan akan menjadi pembelajaran bagi yang diuji dan para kohai lainnya yang menonton. "Oh, begitu caranya jika kita diserang